Study from other

Banyak orang yang saya kenal sudah tau, mau jadi apa ketika saya besar kelak. Yup, menjadi seorang Dokter. To be Doctor. Spesialis apa nantinyaa.. Lets see yaa. Saya masih bingung aja untuk urusan pengambilan spesialis.

Sebenarnya kalau bicara usia, saya masih tergolong ABG (Anak Baru Gede) atau lumrah disebut dengan remaja. SMP saja baru mau naik ke kelas 8. Tapi, saya cukup serius untuk masalah masa depan, terutama profesi saya nanti kedepannya.

Dokter.. Bukan pekerjaan yang mudah. Pekerjaan yang menyangkut nyawa manusia, salah sedikit akibat bisa fatal. Untuk menjadi seorang dokter pun, dibutuhkan kecerdasan otak yang cukup, cukup tinggi maksudnya, karena materi kedokteran itu sangat banyak. Tidak seperti jurusan-jurusan pada umumnya. Tidak hanya otak, tapi kecakapan finansial dan ekonomi juga penting. Paling tidak, kalau memang kurang mampu bisa ikut beberapa program beasisiwa, mau itu beasiswa karena tidak mampu, atau bahkan beasiswa prestasi. Kalau beasisiwa prestasi juga, gak mudah juga dapatnya, tidak semudah namprak (?) (*minta) uang ke mama papa. Hi-hi-hi..

Kalau tidak salah 2 bulan yang lalu, saya kena radang infeksi gendang telinga. Penyakitnya kaya yang biasa, padahal cukup bahaya. karena kalau sampai saya telat periksa, saya bisa kehilangan gendang telinga kanan ini. Hikss.. 😥

Dokternya dokter THT, tapi karena gak ada dokter spesialis remaja, jadi saya didaftarkan ke dokter yang biasa meriksa orang dewasa. Padahal saya ke ruangannya tuh pake seragam putih-biru ala anak SMP zaman sekarang (emang dulu seragamnya warna apa? Hihi :D), tapi dokternya itu punya wajah seseram serigala (bukan serigala ala EXO ya.. *ehapaini?), dan ternyata iya.. beliau cukup galak.

Kronologis ceritanya gini, singkat.. Gak apa-apa ya? 😀

Saya disuruh duduk di kursi khususnya, hadap kiri. Terus, telinga kanan saya di pakein alat gitu. Buat nyedot cairannya, katanya nanah, tapi gak tau deh. Sakit rasanya, sampai-sampai ke kepala pusing. Karena galak ceritanya, kayanya beliau coba untuk merubah posisi kepala saya. Tapi kurang lembut, jadi kesannya seperti menjitak. -_-

Harusnya, jadi dokter itu menyenangkan lah. Minimal halus ke pasiennya, fungsinya banyak: Pasien jadi gak trauma kaya saya check up kesana, gak kaku juga, dan masih banyak manfaatnya deh to be a great doctor itu.

So, kesimpulannya adalah : “When the time is coming, at the time that i have been a doctor. I just wanna be a nice doctor. Because, doctor is noble job. Dont broke that! Remember!”

Semoga bermanfaat tulisan kali ini, maaf sebesar-besarnya kalau kurang nyambung. Saya masih dalam tahap “belajar” menulis. Syukron jazakallah atas parsitipasinya! 😀

Sambung di tulisan selanjutnya yaaa!!

——————

Salam Hangat Penulis

Wafa Nur Izzah :*

Advertisements

2 thoughts on “Study from other

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s