THE FIRST PAYMENT

Its good experience. Ketika ditanya soal rupiah pertama yang saya dapatkan. Hhm.. Rupiah pertama yang saya dapatkan adalah ketika saya masih kelas 6 SD. Lewat bidang modeling, saya pertama kali mendapatkannya.

Hari itu sabtu pagi, ayah atau yang biasa saya panggil abi, mendapat telfon dari rekan kerjanya yang bertugas di bagian preparing untuk pemotretan. Kebetulan waktu itu, ada jilbab dan gamis model terbaru, yang katanya cocok untuk saya pakai. Akhirnya, dicobalah saya menjadi model dari jilbab tersebut. Ditemani teman dekat saya, saya datangi  ruangan kerja abi dan langsung saya diajak ke tempat Make Up oleh si pe-Makeover nya. Teman yang mengantar saya juga diajak untuk di make up, nemenin saya aja katanya.

Sekitar kurang lebih 2 jam saya selesai di make up. Dari jam 9.00 pagi, sampai jam 11.00. Barulah, moment yang agak aneh ini saya mulai. Dari gaya A-Z, saya disuruh oleh fotografer tersebut bergaya. Karena menjadi model ini adalah “First Experience”, saya sangat kaku. Fotofrafernya cukup galak memarahi saya ketika tidak “Full expressive”. Saya malah masih ingat dia bicara mengeritik saya, “Kalau senyum senyum aja yang bener. Kalau mau ekspresi marah, cari ekspresi wajah ter-‘iblis’ kamu.” Saya hanya bisa mangut-mangut saja. Tanpa perlawanan. Menyedihkan.

Mungkin karena masih belum bisa terlalu expressive di depan kamera saya ditantang untuk bergaya di depan cermin terlebih dahulu. Fotografernya bilang lagi, “Coba kamu lihat wajah kamu disana. Seperti apa ekspresi kamu tadi.” Disana saya disuruh untuk mengekspresikan bibir saya, dari senyum lebar sampai bibir ala-ala gaya modeling professional yang hanya menunjukkan senyuman sinis dari bibir manisnya.

Pemotretan selesai ketika adzan ashar berkumandang. Bayangkan saja, memakai high-heels 7 cm selama 4,5 jam. Saat itu, kaki saya sudah seperti mau patah. Dengan 5 gamis+5 jilbab yang saya pakai bergantian.

Saya kira menjadi seorang model itu mudah, tapi ternyata tidak semudah yang selama ini saya pikirkan.

Masalah payment atau honornya. Saya dapat berbarengan dengan honor abi saya. Dikasihkanlah, amplop putih berisi rupiah entah berapa lembar. Saya coba sedikit demi sedikit membuka perekat amplop tersebut. Disana terdapat 2 lembar uang rupiah bernominal lima puluh ribu rupiah. Artinya, ada uang seratus ribu rupiah yang saya dapatkan pertama kalinya.

Ternyata rasanya mendapat uang dari hasil kerja keras sendiri itu sangat indah, istilahnya “Speechless”— tidak bisa berkata-kata.

Bahagia, walaupun sebenarnya tidak besar nominalnya. Namun sangat berbangga, karena itu adalah hasil kerja keras dan keringat saya sendiri. Uang pertama itu saya pakai untuk berbelanja buku di salah satu toko buku di Bandung bersama teman yang mengantar saya juga.

Sekarang saya tahu, betapa seorang ayah memang sangat mulia. Rela berkorban untuk seluruh anggota keluarganya. Untuk mencari nafkah halal nan baik. Subhanallah…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s